Pagi itu tentang harapan.. Harapan yang akan diukir sampai malam menjemput, dan harapan baru akan disambut lagi keesokan harinya. Begitu seterusnya.
Hari ini, saya berharap setiap menitnya menjadi berkah. Mengingat kejadian 1,5 bulan lalu bayi serta anak-anak dibawah umur mengalami kekerasan seksual, saya marah. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa, semoga anakku yang berusia 11 bulan tidak mengalami hal serupa
Sakit fisik yang dirasakan korban itu sudah pasti. Tapi sakit batin dan mental? Mungkin belum kelihatan saat ini. Anak-anak yg saya temui masih riang bermain. Tapi bagaimana jika mereka merasakan haid pertama kali? Bagaimana jika mereka mulai pacaran? Bagaimana jika nantinya mereka ingin menikah? Apa kekerasan seksual yg pernah mereka dapatkan akan terlupakan begitu saja?
Semalam, sebelum tidur saya berdoa semoga kekerasan terhadap anak tidak terjadi lagi. Tapi pagi ini, membaca tweet teman saya, tentang anak temannya yang berumur 7 tahun, mendapatkan kekerasan seksual ketika pulang sekolah, bayangan lima orang korban kekerasan seksual yang pernah saya temui muncul dikepala saya. Kasihan. Anak teman saya, yg mengalami kejadian serupa, sekalipun tidak ada penetrasi (menurut hasil visum) tetap memunculkan trauma. Si anak ketakutan jika didekati orang asing.
Korban pertama, kekerasan seksual di Bantaeng, berumur 9 tahun trauma karena dia melihat dengan jelas muka pelaku, dan sempat mendapatkan ancaman
akhirnya sekarang, anak ini murung terus, jadi pendiam, padahal sebelumnya dia tidak seperti ini. Masa kecilnya terenggut.
Begitu juga dengan korban ketiga, saking traumanya dia sekarang menjadi anak yang suka memukul, jika didekati, atau disentuh dengan teman sebaya dan berlawanan jenis, dia berontak. Bahkan jadi pemarah.
Moms, kita harus jaga anak-anak kita dari perlakuan biadab orang-orang yang bermental rendah. Kekerasan fisik maupun seksual terhadap anak mungkin tidak bisa dihindari, tapi setidaknya kita bisa mencegah. Jangan biarkan anak kita keluar gerbang sekolah jika belum dijemput. Bila perlu koordinasikan dengan guru. Tidak membiarkan anak kita pulang dengan orang yang kita kenal baik. Jika anak kita masih balita, jangan memberikan kepercayaan penuh kepada baby sitter. Pantau dan awasi mereka, karena biar bagaimanapun anak kita adalah anak kita, bukan anak baby sitter, jadi pastikan kita yang punya peran paling banyak dalam hal mengasuh anak.
Dan ingat pula, banyak kejadian kekerasan seksual yang terjadi justru dilakukan oleh orang terdekat. Jadi hati-hati moms, masa depan anak kita juga ditentukan oleh orangtua. Lindungi mereka sebaik mungkin.
recent comments